Industri Lokal Genjot Produksi Komponen Kereta Api

Industri Lokal Genjot Produksi Komponen Kereta Api

JAKARTA — Industri penunjang komponen kereta api berupaya menekan ketergantungan pada bahan baku impor. Direktur Utama PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA, Budi Noviantoro, mengatakan upaya ini merespons kebijakan pemerintah untuk menggenjot tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dalam proyek transportasi, khususnya perkeretaapian. Menurut Budi, peningkatan TKDN sedang dikebut berbagai perusahaan yang tergabung dalam Asosiasi Industri Manufaktur dan Penunjang Perkeretaapian Indonesia (Indonesia Railway Component Manufactured Association/IRMA). “Kami berfokus ke peningkatan TKDN komponen kereta,” ujarnya kepada Tempo, kemarin. Budi mengatakan 60 persen komponen sarana kereta masih diimpor. Beberapa komponen yang dimaksudkan adalah mesin penggerak, penopang roda alias bogie, dan roda kereta. Adapun komponen prasarana, seperti rel, rambu, dan persinyalan, sudah 80 persen dipenuhi industri lokal. “Meski masih ada rel khusus yang diimpor,” ucapnya. Industri nasional kini sudah mampu membuat kereta non-penggerak atau gerbong dengan kandungan lokal 90 persen. Menurut Budi, hanya bagian roda yang belum bisa dikerjakan sendiri oleh INKA.

Adapun komponen kereta dengan penggerak atau propulsi, seperti kereta rel diesel (KRD), kereta rel listrik (KRL), serta kereta cepat, masih diimpor, baik material maupun teknologinya. “Local content kereta berpenggerak ini ditargetkan sudah 50-60 persen dalam 3- 4 tahun mendatang,” tutur Budi. “Kami punya lisensi, misalnya sistem pendingin (AC) bisa kita garap sendiri, walau sekarang sebagian komponennya dari Jepang, perlahan diubah.” Budi memastikan INKA ikut dalam studi kelayakan kereta cepat Jakarta-Surabaya. INKA bahkan diminta pemerintah untuk menyiapkan bakal konsep, jika nantinya terlibat dalam pengerjaan rangkaian kereta (rolling stock) proyek tersebut. Direktur Utama PT Barata Indonesia (Persero) Silmy Karim mengatakan akan memulai produksi roda kereta api pada triwulan II tahun depan. Perusahaan yang membidangi pengecoran logam tersebut tengah menyiapkan lokasi dan alat produksi komponen tersebut. “Pada tahap awal, produksinya mencapai 20 ribu wheel set per tahun, sedangkan kapasitas totalnya untuk 40 ribu,” kata Silmy kepada Tempo. Silmy pun memastikan bahan baku pembuatan roda kereta bisa dipenuhi produsen domestik. “Bogie sudah kami produksi, bahkan untuk ekspor, seperti ke Amerika Serikat.” Sekretaris Perusahaan PT Pindad (Persero) Tuning Rudyati mengatakan perusahaannya ikut mengerjakan komponen persinyalan, wesel atau konstruksi rel bercabang, serta sistem rem. “Pindad sudah membuat motor taksi untuk KRL. Kami akan memperluas kapasitas dan kapabilitas produksinya.” Direktur Pusat Teknologi Sarana dan Prasarana Transportasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Rizqon Fajar, mengatakan industri lokal masih membutuhkan waktu dan pengalaman untuk membangun propulsi sendiri. Namun dia mengapresiasi industri lokal yang rajin menerapkan transfer teknologi. “Sebagian besar masih diimpor, tapi pengerjaan desain sudah dikerjasamakan dengan lokal.” Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menilai ketergantungan pada impor bisa sangat diredam pada proyek perkeretaapian. “Kalau kereta api banyak pengerjaan sipilnya, jadi konten lokalnya juga bisa banyak,” ucapnya di kantor BPPT, Jakarta, pekan lalu