Program Gerakan Direksi Mengajar

Program Gerakan Direksi Mengajar – Salah satu cerita itu datang dari orang nomor satu di lingkungan Pelindo III, Djarwo Surjanto. Djarwo yang merupakan Direktur Utama (Dirut) Pelindo III itu melakukan kegiatan mengajar yang merupakan instruksi langsung dari Menteri BUMN di SMA Barunawati Surabaya.

Harusnya, pria kelahiran Bandung 60 tahun silam itu melakukan kegiatan mengajar di SMA Negeri 4 Bandung yang merupakan tempatnya belajar dan menuntut ilmu. Padatnya aktivitas yang menjadi konsekuensi jabatannya sebagai Direktur Utama Pelindo III memaksanya untuk memindahkan lokasi mengajar dari Bandung ke Surabaya.

Kebetulan dihari yang sama, bapak empat orang anak itu memiliki agenda doa bersama/istighosah di Manyar, Kabupaten Gresik. Di tempat itu, Dirut bersama Bupati Gresik Sambari Halim Radianto dan ribuan warga berkumpul bersama di lokasi yang rencananya akan dibangun kawasan pelabuhan dan industri yang disebut Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE). Pemindahan lokasi mengajar tak menyurutkan langkah alumi Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1977 itu untuk mengajar di SMA Barunawati Surabaya. Dengan antusias, setelah selesai acara doa bersama, dirinya langsung menuju ke sekolah yang terletak tidak jauh dari lokasi Pelabuhan Tanjung Perak.

Sudah lama sekali! Saya lulus SMA itu sekitar tahun 1971, jadi sudah berapa lama, ada kalau sekitar 41 tahun yang lalu kan?, kata Djarwo mengawali kegiatan mengajarnya. Secara lugas dan santai, Djarwo berbagi pengalaman hidupnya kepada sedikitnya 285 orang peserta yang terdiri dari siswa dan guru. Dia bercerita kalau dirinya adalah seorang yang memiliki disiplin cukup tinggi.

Maklum, orang tuanya adalah seorang tentara. Gemblengan kedisiplinan bukan hanya dari orang tua semata, sekolah masa kecilnya juga menerapkan disiplin yang cukup ketat. Kala itu Djarwo pernah bersekolah di sebuah Sekolah Katholik di daerah Cimahi, Jawa Barat. Kedisiplinan itu tertanam hingga dirinya beranjak dewasa dan memasuki dunia perkuliahan.

Di tingkat perguruan tinggi, Djarwo tercatat sebagai salah satu mahasiswa di perguruan tinggi ternama di Indonesia. Hingga tahun 1977, dirinya adalah salah satu mahasiswa di Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Institut Teknologi Bandung (ITB). Kita tahu bahwa ITB hingga kini masih menjadi universitas unggulan di Indonesia, banyak yang ingin masuk ke sana dan tidak sedikit pula yang gagal untuk kuliah di sana. Saya bersyukur bisa tercatat sebagai salah satu mahasiswa ITB. Itu semua tak lepas dari kedisiplinan dan kerja keras yang telah mengakar dalam diri saya sejak masih kecil, lanjutnya. Kesuksesan yang sekarang ini dicapainya tak lepas dari buah kerja keras dan disiplin yang dia jalankan selama ini.

Djarwo berpesan kepada seluruh peserta Gerakan Direksi Mengajar untuk tetap fokus dalam belajar dalam menggapai cita-citanya. Bahkan, dirinya berharap suatu saat nanti ada Direksi Pelindo III yang berasal dari SMA Barunawati. Saya tantang kalian 15 atau 20 tahun ke depan ada tidak yang mampu menjadi Direktur di Pelindo III, tidak harus lima, minimal ada dua orang, satu laki-laki dan satu perempuan, tegas penyuka olah raga sepak bola ini.

Sontak saja pernyataanya itu disamput meriah oleh para peserta yang memenuhi ruang auditorium sekolah tersebut. Pernyataan itu muncul sebagai sebuah bentuk motivasi. Hal itu perlu karena menurut penyuka hidangan Sunda ini, remaja sekarang terlalu dimanjakan oleh keadaan. Segalanya telah tersedia dan mudah untuk mendapatkannya. Kemajuan saat ini bagai dua sisi mata uang, saling bertolak belakang. Disatu sisi sangat baik, tapi di lain sisi juga merugikan.

Segalanya serba instan, mudah, mau ini ada, itu ada, jadi seolaholah tanpa harus bersusah payah bisa dengan mudah mendapatkan apa yang diinginkan. Kebanyakan sekarang jadi pada malas, dulu bisa konsentrasi belajar, sekarang ini mau belajar BB (Blackberr y) n y a b u n y i , h i l a n g sudah konsentrasinya,” tambahnya. “Saya tantang kalian 15 atau 20 tahun ke depan ada tidak yang mampu menjadi Direktur di Pelindo III, tidak harus lima, minimal ada dua orang, satu laki-laki dan satu Seolah tak kehabisan kata, lagi-lagi Djarwo mengingatkan agar para siswa tetap menatap masa depan dengan menjaga diri dari pergaulan yang negatif. Narkoba dan pergaulan bebas dapat merusak masa depan yang sudah diimpikan. perempuan Kepala Sekolah SMA Barunawati, Kurnia Saptaningsih mengaku apa yang disampikan oleh Direktur Utama Pelindo III itu cukup membuat dirinya dan para peserta lainnya kagum akan sosok Djarwo Surjanto.

Dikatakannya, cerita yang disampaikan kepada seluruh peserta dapat diterima dan dicerna dengan mudah. Sehingga dia berharap apa yang disampaikan di forum tersebut dapat menjadi teladan bagi para siswa. “Ini jarang sekali dilakukan oleh mereka yang bukan seorang pengajar (guru-red). Akan tetapi Pak Djarwo dapat menyampaikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah diterima. Semoga ini bisa memberikan sebuah pencerahan bagi para siswa.” Pada kesempatan itu pula disampaikan bantuan pendidikan senilai Rp50 juta dari Pelindo III kepada SMA Barunawati. Bantuan itu digunakan untuk pengembangan sekolah yang dapat diwujudkan dalam bentuk sarana dan prasarana pendukung kegiatan belajar di sekolah yang bernaung di bawah yayasan milik Pelindo III itu.

Djarwo merasa senang mengajar di sekolah tersebut karena memiliki fasilitas genset diesel yang dibeli sekolahan dari jual genset solar di Banjarmasin beberapa tahun silam. Kegiatan belajar siswa tidak lagi terganggu dengan listrik PLN, sehingga para siswa lebih cepat dalam menerima pelajaran yang disampaikan.