Cara Menghadapi Anak yang Jutek Bagian 2



BERI MASUKAN

Kabar baiknya, di usia sekolah sikap jutek masih bisa berubah. Di usia ini, keterampilan sosial, moral, kognitif, dan lainnya masih berkembang. Untuk itulah berbagai masukan dari orangtua mengenai sikap-sikap terpuji amat dibutuhkan. Masukan ini setidaknya akan membuat anak berpikir dan menentukan pilihan dalam bersikap. Nah, berikut kiat-kiat selengkapnya dalam menghadapi anak jutek:

¦ Jalin komunikasi dengannya. Di usia SD anak sudah bisa diajak bicara. Contoh, “Bunda lebih senang, lo kalau bicara Kakak tidak kasar seperti itu. Orang lain yang mendengarnya bisa sakit hati.” Atau “Kak, kok enggak senyum? Coba deh senyum yang ceria, Kakak pasti lebih cantik!”

¦ Jika anak tiba-tiba jadi jutek, cari tahu penyebabnya. Apakah ia sedang sebal pada sesuatu atau seseorang? Jika karena anak sedang capek, kita bisa berkata, “Mama ngerti kamu capek. Tapi coba, juteknya enggak perlu dibarengi kata-kata yang bisa menyakitkan orang lain, seperti itu.”

¦ Kalau sikap jutek anak ehmm… maaf lantaran meniru Mama atau Papa, kita harus introspeksi diri. Bagaimana kita tahu itu? Biasanya kalau ditegur buah hati akan berkata, “Mama juga jutek!” Nah, kalau sudah begitu, cobalah membuat perubahan pada diri sendiri terlebih dulu. Tampilkan wajah ceria. Bicara pun sebisa mungkin agak “direm” supaya tidak membuat orang lain sakit hati. Mengubah sikap yang sudah melekat lama, memang agak susah. Namun tetap perlu berusaha ya Ma, Pa. Ingat, keluarga merupakan faktor penting yang memberikan pengaruh positif pada diri anak.

¦ Hindari penguatan yang bersifat negatif. Biasanya penguatan ini diperoleh anak dari temantemannya. “Wah, keren kamu bisa jutekin dia. Pasti anak itu enggak berani macam-macam sama kamu.” Hal ini bisa menjadi penguat tingkah lakunya. Untuk itulah mengapa penguatan positif di rumah amat diperlukan. Pujilah setiap ia bersikap manis. “Mama senang deh melihat Kakak bicara sopan. Kakak tahu enggak kalau orang yang jutek biasanya susah punya teman.” Penguatan positif akan membuat anak memiliki patokan nilai-nilai mana yang harus ia ikuti dalam bersikap. ¦ Ajari anak untuk berempati. ”Kak, kalau kamu dijutekin temanmu seperti itu, apa enggak sedih? Temanmu sedih lo jika kamu ceplas ceplos seperti itu padanya.”

¦ Bila perlu minta bantuan guru di sekolah. Ini bukan berarti guru memanggil anak dan mengajaknya bicara empat mata. Kalau ini terjadi, bisa-bisa anak menganggap orangtua mengadukan perilakunya pada guru. Sebaiknya, guru membahas suatu wacana tentang norma-norma di masyarakat. Misal, tentang sikap-sikap positif terhadap orangtua, guru, teman, dan orang lain.

Dengan langkah-langkah ini, semoga anak tak lagi jutek. Selamat mencoba!