Cara Menghadapi Anak yang Jutek

Cara Menghadapi Anak yang Jutek

Pinjem ceritanya, dong,” pinta Sarah kepada Ratih. buku “Gak, boleh!” jawab Ratih. “Ih, pelit banget sih.” “Biar saja, emang gue pelit, kenapa?” kata Ratih dengan ekspresi wajah jutek. Sarah cepat-cepat menyingkir, lalu berbisik-bisik pada Lala, teman sebangkunya. “Sangar banget muka Ratih. Gue enggak suka omongannya ceplas-ceplos. Jutek lagi. Huh, enggak usah jadi temen, aja,” gerutu Sarah.

DIJAUHI TEMAN

Anak jutek/judes memang umumnya akan dijauhi lantaran sikapnya yang tak ramah. Ekspresi wajahnya yang selalu bête dan cara bicara yang ceplas-ceplos juga membuat banyak orang berpaling. Apakah kita dapat mengubah sikap anak yang jutek menjadi lebih ramah? Tentu bisa! Namun sebelum itu, kita perlu sedikit memahami soal sikap judes ini. Ternyata jutek bisa dikategorikan menjadi dua. Jutek yang bersifat spontan (tidak menetap), dan jutek yang memang sudah bawaan (karakteristik jutek sudah melekat pada yang bersangkutan). Anak-anak usia kelas 4 SD ditengarai yang paling banyak bersikap jutek spontan. Hormon pra-pubertas yang tengah bergejolak membuat emosi si praremaja ini jadi kerap moody. Saat sedang lelah, lalu digoda, munculah sikap judesnya. Sikapnya ini juga bisa lantaran anak sedang bête dengan teman, saudara, orangtua, atau lainnya. Kalau emosinya sudah mereda atau ia sudah “baikan” dengan orang itu, sikapnya kembali ramah. Intinya, si anak bersikap jutek karena ingin menjauh sesaat dari apa yang dianggapnya sebagai gangguan. Sementara jutek yang dari “sononya” alias jutek bawaan diperoleh anak lewat pengalaman. Umumnya ini terkait dengan bagaimana cara orangtua mendidiknya. Bisa juga anak jutek karena modeling dari mama atau papanya yang juga jutek. Karena sering melihat anggota keluarganya bersikap judes di rumah, anak pun meniru, tanpa melihat apakah lingkungan atau teman-temannya bisa menerima atau tidak.

IDEALNYA SUDAH TAHU CARA BERSIKAP

Anak-anak SD (terutama kelas 4 SD ke atas) secara sosial sebenarnya sudah tahu bagaimana harus bersikap pada orang lain. Mereka sudah pada taraf dapat mengenali perasaan orang lain. Secara moral pun si usia sekolah seharusnya mengerti bagaimana harus bersikap sesuai aturan yang dituntut oleh lingkungan. Contoh, tidak bersikap jutek dan ceplas ceplos pada orang lain. Untuk itu, bila kita memergoki si usia sekolah bersikap jutek/ bicara ceplas-ceplos pada seseorang, tegurlah baik-baik agar tidak menjadi kebiasaan. Sikap jutek yang tidak dikoreksi akan membuat anak mengembangkan sikap tersebut dan tumbuh ketidakpeduliannya untuk bersikap hormat pada orang lain. Anak menjadi antisosial karena sering dijauhi teman-temannya. Stigma jutek yang melekat pada dirinya pun akan membuatnya semakin sulit bersosialisasi. Jika terbawa hingga dewasa, sikap jutek ini akan sulit diubah. Jika diingatkan, ia mungkin berkata “Ya, aku emang seperti ini orangnya. Terima saja seperti itu.”

Lanjut ke Bagian 2 : https://tri-bag.com/parenting/cara-menghadapi-anak-yang-jutek-bagian-2/