Strategi dan Tantangan Percepatan Penggunaan Pupuk Organik Bagian 1

“Bagaimana mencapai peningkatan produksi dan produktivitas pertanian kita kedepan dan sekaligus upaya mencapai perbaikan dan peningkatan kualitas kesuburan lahan pertanian kita? Yang pada akhirnya akan menentukan pendapatan dan kesejahteraan petani kita,” ungkap Bungaran Saragih. Tentunya dimulai dengan penentuan paradigma? Paradigma pembangunan pertanian termasuk pencapaian kedaulatan pangan nasional adalah pembangunan pertanian dan kedaulatan pangan yang berkelanjutan.

Berkelanjutan dalam pengertian mampu bertumbuh terus, bersahabat dengan lingkungan, dan bertanggung jawab secara sosial. Dan dimensi keberlanjutan dalam aspek bersahabat dengan lingkungan ini sudah menjadi kesadaran kita serta tuntutan global. Ini akan menjadi salah satu arus utama dalam pembangunan pertanian, kedaulatan pangan, dan peningkatan produksi serta produktivitas komoditas pertanian pangan jangka menengah dan panjang.

Penggunaan dan pengembangan pupuk organik kedepan perlu ditegaskan kembali dalam konteks keberlanjutan tersebut. Pembangunan pertanian berkelanjutan hanya dapat dipertahankan dengan adanya sumberdaya lahan pertanian yang tetap subur, sehat, dan produktif. Lahan dan air adalah sumberdaya atau faktor produksi pokok dalam budidaya atau usahatani kita. Inilah yang harus menjadi perhatian serius dan sudut pandang strategis yang menjadi dasar kita melihat pupuk organik kedepan.

Pengembangan pupuk organik ke depan sangat strategis dan mendesak, baik dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang. Pertama, memperbaiki kondisi lahan pertanian yang sebagian besar sudah levelling off, keras, dan rusak bahkan kritis akibat penggunaan pupuk anorganik yang berlebihan secara terus-menerus.

Kedua, meningkatkan efisiensi pemupukan di lahan-lahan pertanian yang rendah kandungan C-organiknya. Ketiga, memenuhi kebutuhan pertanian organik dengan menghasilkan produk organik. Dan keempat, meningkatkan kualitas fisik dan kimia lahan pertanian untuk landasan peningkatan produktivitas berkelanjutan. Bagaimana penerapan di kalangan petani?