Strategi dan Tantangan Percepatan Penggunaan Pupuk Organik Bagian 2

Data menunjukkan, proporsi aplikasi pupuk organik masih relatif sedikit dibandingkan luas lahan pertanian yang ingin diperbaiki tingkat kesuburannya. Bahkan pertumbuhannya lambat dan cenderung stagnan. Dari alokasi subsidi pupuk organik yang mencapai satu juta ton, dalam beberapa tahun terakhir, realisasi penyerapannya sekitar 600 ribu-800 ribu ton per tahun. Dengan alokasi subsidi tersebut dan sesuai rekomendasi penggunaan pupuk organik sebesar 500 kg per ha, cakupan aplikasi pupuk organik baru mencapai dua juta ha lahan setiap tahun atau sekitar 25%- 30% dari luas lahan baku sawah nasional.

Beda dengan tren penggunaan dan penyerapan pupuk organik di negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand justru lebih besar dan bertumbuh pesat. Beberapa kendala penyerapan pupuk organik antara lain hambatan psikologis petani atas dampak langsung penggunaan pupuk organik, persoalan kualitas, kandungan nutrisi dan hara, harga, serta logistik. Dari berbagai kunjungan lapangan dan diskusi terbatas selalu mengemuka argumentasi petani kurang tertarik menggunakan pupuk organik karena dampaknya relatif kecil sekali bagi pertumbuhan tanaman. Tidak seperti efek penggunaan pupuk anorganik seperti urea dan atau NPK.

Harapan itu bertolak belakang dengan karakteristik pokok pupuk organik untuk membenahi struktur dan kualitas serta kesuburan tanah bukan sebagai nutrien atau kandungan inti seperti pupuk N, P, K. Disamping itu, perlu didiskusikan secara kompre hensif, akademis, dan praktis soal penamaan atau kategorinya, apakah disebut “pupuk” sebagai sumber nutrien tanaman atau justru sebagai “kompos” untuk pembenah tanah.

Pasalnya, sudah sangat mendesak bagi kita untuk memperbaiki dan membenahi status dan kondisi bahan organik lahan pertanian kita baik sawah maupun ladang. Tolok ukur pokoknya adalah per baikan kesuburan lahan petani sehingga produktivitas dan produksinya akan lebih tinggi dan lebih baik.